4 Cendekiawan Islam Dibidang Ilmu Tafsir Adalah Dari Indonesia

oleh -102 Dilihat
cendekiawan islam dibidang ilmu tafsir adalah

Perkembangan tafsir khususnya di dunia islam mengalami dinamika yang cukup variatif di Indonesia. Keberadaan cendekiawan islam dibidang ilmu tafsir adalah tokoh yang membantu menafsirkan melalui berbagai gagasan, pengembangan ide, kreasi dan karya yang mereka ciptakan.

Penulisan tafsir Al-Quran ini mereka lakukan bertujuan menjadikan salah satu upaya agar kita lebih mudah memahami pesan Tuhan. Baik itu berupa pesan moral ataupun etika dalam islam. Guna mengimplementasikannya di kehidupan keseharian.

Penafsiran ayat Al-Quran memiliki hasil yang beragam sesuai dengan pemikiran dan juga ciri khas dari corak penulisan penafsirnya. Namun demikian, kitab tafsir masih asing bagi kalangan di era modern ini. Maka dari itu, agar menambah wawasan inilah beberapa cendekiawan islam dalam bidang ilmu tafsir yang berasal dari Indonesia.

4 Cendekiawan Islam Dibidang Ilmu Tafsir Adalah dari Indonesia

Kebanyakan dari kita mungkin berfikir bahwa berbagai kitab tafsir yang ada adalah karya para cendekiawan dunia. Namun, perlu kita ketahui bahwa di Indonesia juga terdapat banyak cendekiawan islam yang mahir dalam ilmu tafsir, bahkan sudah memiliki karya tafsir yang terkenal. Inilah 4 tokon cendekiawan islam dari Indonesia di bidang ilmu tafsir!

  1. Buya Hamka 200

Tokoh agama yang menjadi cendekiawan islam dibidang ilmu tafsir adalah yang sering kita sapa sebagai Buya Hamka ini lahir di tahun 1908 tepatnya tanggal 16 Februari di Tanah Sirah Desa Sungai Batang, Tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat. Nama asli beliau adalah Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah.

Dalam perkembangan khazanah keilmuan, Buya Hamka memiliki jasa yang besar khususnya dalam dunia islam di Indonesia. maka tak heran jika ia mendapat julukan sebagai Tokoh Islam Indonesia, pujangga, sejarawan, pemimpin, pendidik hingga pengarang. 

Buya Hamka juga sempat mendapatkan penghargaan atau anugerah tingkat nasional maupun internasional. Beberapa anugerah tersebut antara lain, Kehormatan Ustadziyah Fachriyah atau Doktor Honoris Causa di tahun 1958 oleh Universitas al-Azhar, penghargaan dari Universitas Kebangsaan Malaysia di tahun 1974 atas perjuangannya terhadap syi’ar islam.

Salah satu karya Buya Hamka yaitu tafsir a-Azhar. Nama al-Azhar pada karya tafsirnya ia ambil dari nama masjid yang ada di kampung halamannya yaitu Kebayoran Baru. Tafsir al-Azhar ini menjadi pencapaian dan sumbangsih besar yang Buya Hamka lakukan dalam membangun perkembangan pemikiran dan juga peradaban ilmu di Nusantara.

Corak penulisan yang Hamka gunakan pada tafsir ini adalah dominasi adab al-ijtima’i. Penggunaan bahasa melayu yang indah tersaji dengan konteks sosial kemasyarakatan yang sesuai pada saat itu. Sehingga mudah untuk masyarakat Indonesia baca dan pahami.

  1. Shaleh Darat

Nama lengkap dari tokoh yang kerap kita sapa sebagai Mbah Kyai Hj. Shaleh Darat adalah Muhammad Shaleh bin Umar as-Samarani. Shaleh Darat merupakan seorang cendikiawan dan ulama yang hidup di abad ke 19 akhir.

cendekiawan islam dibidang ilmu tafsir adalah

Ia lahir pada tahun 1820  di Kedung Cemplung, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara dan wafat pada tahun 1903 di tanggal 18 Desember tepatnya hari jumat. Makamnya berada di pemakaman umum daerah Bergota Semarang.

Sejak kecil sudah mendalami ilmu agama dengan bimbingan dari ayahnya yang bernama Kiai Umar bin Tasmin.  Selain itu Shaleh darat juga menuntut ilmu hingga ke Haramain dan memiliki guru beberapa kiai yang ada di Pantai Utara Jawa. 

Dari ilmu yang ia miliki tersebut, Shaleh Darat berjasa dalam penyebaran islam khususnya di daerah Pantai Utara Jawa. Ia biasanya berdakwah dengan lisan maupun secara tulisan melalui goresan tintanya.

Tafsir Faidh ar-Rahma merupakan salah satu karya Shaleh Darat. Tafsir yang ia tulis banyak menggunakan aksara pegon berupa teks berbahasa jawa namun penulisannya menggunakan aksara arab atau hijaiyah. Oleh karena itu, karya tafsirnya lebih mudah masyarakat pahami khususnya masyarakat Jawa.

  1. Quraish Shihab 

Selanjutnya cendekiawan islam dibidang ilmu tafsir adalah Quraish Shihab yang bernama lengkap Muhammad Quraish Shihab. Lahir pada tahun 1944 tepatnya tanggal 16 Februari di Rappang, Sulawesi Selatan. Terlahir dalam keluarga terpelajar berketurunan Arab, sejak kecil benih-benih kecintaannya terhadap Al-Quran sudah terlihat.

Quraish Shihab juga sempat mengenyam pendidikan di Kairo Mesir pada tahun 1958. Selain itu, ia juga peraih gelar doctor pertama se-asia tenggara dalam ilmu Al-Quran di Universitas Al-Azhar.

Sekembalinya ke Indonesia, ia sempat menempati beberapa jabatan penting antara lain di tahun 1984 sebagai Ketua MUI, tahun 1998 sebagai Menteri Agama di Kabinet Pembangunan VII dan beberapa jabatan lainnya.

Tafsir al- Misbah menjadi karya Quraish Shihab yang paling terkenal. Berlatar belakang ingin menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam hidup, maka lahirlah tafsir tersebut. Cara penafsiran yang beliau gunakan yaitu adab al-ijtima’i dan lughawi. Penggunaan bahasa Indonesia dengan gaya lugas membuat karya ini banyak masyarakat sukai karena mudah untuk memahaminya.

  1. Nawawi al-Bantani 

Syekh Nawawi al-Bantani ini lahir pada tahun 1813 di Desa Tanara Tirtayasa, Tangerang, Serang, Banten. Nama asli beliau yaitu Nawawi bin Umar bin ‘Arabi.

Ia mulai mempelajari ilmu agama di usia 15 tahun dengan pergi ke Mekkah. Usai menghabiskan waktu puluhan tahun untuk belajar di sana, Syekh Nawawi akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah air. tujuannya ingin menyebarkan ilmu yang telah ia pelajarinya di Mekkah kepada masyarakat berbagai kalangan di Jawa.

Selama berdakwah, sering kali Syekh Nawawi mendapat pengawasan dan halangan dari kolonial Belanda. Berbagai rintangan tersebut membuatnya menjadi tidak nyaman berdakwah di Indonesia. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Mekkah.

Tafsir Marah Labid li Kasyfi ma’na Quran Majid merupakan salah satu karya dari Syekh Nawawi. Corak penafsiran yang ia gunakan ialah tasawuf dan fiqh menggunakan bahasa Arab. Penulisan pada tafsir ini sudah lebih modern karena sudah ada perkembangan tafsir di abad ke 19.

Kehadiran cendekiawan islam dibidang tafsir adalah salah satu bentuk kemajuan peradaban. Kita patut berbangga hati sebab ada cendekiawan yang berasal dari Indonesia. Dari kelima tokoh di atas manakah yang sudah Anda ketahui?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.